Popular Posts
-
MAKALAH LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA Dosen Pembimbing Ho...
-
ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL “ Traditional Chinese Medicine Fo...
-
MAKALAH BENTUK LAIN BADAN USAHA Materi Diskusi Kuliah Pen gantar Bisnis Hari Kamis, Pukul 10.40 WIB Ruang Kuliah 01.I Oleh ...
-
...
-
RANGKUMAN FUNGSI PEMASARAN Tugas Pengatar Bisnis Oleh Nanda Tri Armada (160810201208) Kelas B/ Ruang.01.I A. Pengertian Men...
-
OPTIMALISASI TEK NOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM PENINGKATAN SWAGUNAS ( SWASEMBADA GULA NASIONAL ) ...
-
Cara Menulis Artikel dengan Mudah Artikel adalah karangan pendek, berkisar antara 300 sampai 1.000 kata, yang membahas tema tertentu ya...
-
Kelebihan dan Kekurangan Xiaomi Redmi 2 Xiaomi merupakan produsen yang terhitung belum lama memasarkan produknya di Indonesia, namun i...
-
Teknologi yang berkembang pesat memaksa mahasiswa dan karyawan untuk bisa memilih laptop yang tepat, guna menunjang aktivitasnya. Jika masi...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2016
(11)
-
▼
November
(11)
- Dokumenter FEB UNEJ 2016
- Spesifikasi Xiaomi MI5
- Cara Menulis Artikel dengan Mudah
- Fungsi Manajemen Pemasaran
- Keunggulan Laptop Lenovo YOGA 900 (onekey recovery)
- OPTIMALISASI TEKNOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM PE...
- ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL “Traditional Chi...
- makalah bentuk lain dan badan usaha
- Makalah landasan dan tujuan pendidikan pancasila
- Makalah HAM
- Makalah Hukum Islam
-
▼
November
(11)
Diberdayakan oleh Blogger.
Mengenai Saya
Senin, 14 November 2016
OPTIMALISASI TEKNOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM
PENINGKATAN SWAGUNAS
(
SWASEMBADA GULA NASIONAL )
Disusun Oleh :
1. Nanda
Tri Armada (Ketua )
NIS : 7359
2. Shofiyatus
Sholeha (Anggota)
NIS : 7413
3. Pemilda
Alpania M. (Anggota)
NIS : 7380
SMA NEGERI 1 PURWOHARJO
Jalan Slamet Cokro Telp. (0333)
396475 Purwoharjo, Banyuwangi
2014
OPTIMALISASI
TEKNOLOGI
GILING PABRIK GULA DALAM PENINGKATAN SWAGUNAS
(
SWASEMBADA GULA NASIONAL )
Disusun Oleh :
1. Nanda
Tri Armada (Ketua )
NIS : 7359
2. Shofiyatus
Sholeha (Anggota)
NIS : 7413
3. Pemilda
Alpania M. (Anggota)
NIS
: 7380
SMA NEGERI 1 PURWOHARJO
Jalan Slamet Cokro Telp. (0333)
396475 Purwoharjo, Banyuwangi
2014
HALAMAN
PENGESAHAN
1. Judul
Karya Tulis : OPTIMALISASI TEKNOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM
PENINGKATAN SWAGUNAS (SWASEMBADA GULA NASIONAL)
2. Ketua
Kelompok
a. Nama : Nanda Tri Armada
b. NIS : 7359
c. Kelas : XII MIA 2
3.
Anggota Penulis
Anggota
1 : Shofiyatus Sholeha
NIS : 7413
Anggota 2 : Pemilda Alphania M.
NIS : 7380
Banyuwangi, 20 Oktober 2014
Pembimbing I Ketua Kelompok
Norma
Hidayati, S. Pd Nanda Tri Armada
NIP:
19720404 200701 2 016 NIS:7359
Guru Pembimbing II
Djuber, S.Pd
NIP:
Mengetahui,
Wali
Kelas Kepala Sekolah
Eko
Purwanto Nurhadi
Sutjipto, S.Pd NIP:89687969759956 NIP:
19580810 198403 1 016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWTkarena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
kami dapat menyusun Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul “OPTIMALISASI
TEKNOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM PENINGKATAN SWAGUNAS (SWASEMBADA GULA
NASIONAL)”
Pada dasarnya Karya Tulis ilmiah ini
memiliki harapan, dapat bermanfaat bagi pemerintah dan
masyarakat pada umumnya dalampeningkatan
produksi gula di Indonesia.
Terima kasih kepada Bapak Kepala SMA
Negeri 1 Purwoharjo, Bapak Nurhadi Sutjipto, S.Pd,
Bapak Eko Purwanto, S.Pd selaku wali kelas kami, Bapak Djuber, S.Pd dan Ibu Norma Hidayah, S.Pd selaku guru pembimbing kami dan orang tua serta teman-teman yang telah
mendukung dan membantu kami dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Kami menyadari bahwa Karya Tulis
Ilmiah ini disusun dengan berbagai keterbatasan sehingga kritik dan saran
sangat kami harapkan.
Purwoharjo, Oktober 2014
Penyusun
Halaman Judul.....................................................................................................i
Lembar Pengesahan
............................................................................................ii
Kata
Pengantar ...................................................................................................iii
Daftar
Isi ............................................................................................................iv
Abstrak
...............................................................................................................v
Isi
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang ...................................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah...............................................................................2
1.3 Tujuan
................................................................................................2
1.4 Manfaat...............................................................................................3
BAB
II : LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Sejarah Pabrik Gula …………….......................................4
2.1.2 Gula....................................................................................5
2.1.2.1 Gula
Tebu………………………………………..6
2.1.3 Swasembada Gula .............................................................6
2.1.4 Industri Gula ......................................................................8
2.1.5 Rendemen Tebu .................................................................9
2.1.6 Optimalisasi Tehnologi Giling ..........................................9
2.2 Hipotesis.............................................................................................10
BAB
III : METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian...................................................................................11
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ...........................................................11
3.3 Tehnik Pengambilan data……….......................................................11
3.4 Analisis data………...........................................................................11
BAB
IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil...................................................................................................12
4.2 Pembahasan.......................................................................................12
BAB
V : PENUTUP
5.1
Kesimpulan .......................................................................................14
5.2
Saran..................................................................................................14
Daftar
Pustaka
Lampiran
ABSTRAK
Industri gula merupakan
salah satu industri terpenting bagi Indonesia. Tahun 1928, Indonesia mampu
menghasilkan tiga perempat dari ekspor jawa keseluruhan dan industri itu telah
menyumbang seperempat dari seluruh penerimaan pemerintah Hindia Belanda.Swasembada
gula untuk konsumsi masyarakat sudah pernah dicapai pada tahun 2008 dengan
tingkat produksi sebesar 2,7 juta ton. Sedangkan, swasembada gula yang
ditargetkan dicapai pada tahun 2014 adalah swasembada gula, baik untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat maupun untuk memenuhi kebutuhan industry, dengan target
5,7 juta ton.Pemanfaatan
tehnologi penggilingan pabrik gula di Indonesia masih didominasi
teknologi yang relatif ketinggalan zaman. Semuaini menjadi faktor rendahnya produktivitas dan rendemen gula. Untuk
mengatasi kendala ini perlu diadakan pengoptimalisasi tehnologi. Pengoptimalisasi
tehnologi harus dilakukan secara menyeluruh, dari msemua aspek produksi
peningkatan kapasitas giling, hal ini sudah terbukti dari belasan pabrik baru
yang dibangun di era tahun 80an dengan kapasitas rata-rata hampir 5000 tcd
performancenya sangat jelek.Luas lahan, produksi tebu, rendemen dan produksi
gula domestik selama 8 tahun terakhir belum mengalami kenaikan yang signifikan
dan cenderung stabil dari tahun ke tahun. Artinya pengadaan program swasembada
gula guna meningkatkan produksi gula nasional sangat diperlukan. Metode yang
kami gunakan deskriptif kualitatif yaitu bertujuan untuk mengangkat fakta,
keadaan, variable, dan fenomena-fenomena yang terjadi ketika penelitian
berlangsung dan mennyajikannya apa adanya.Optimalisasi tehnologi
penggilingan, ternyata dapat meningkatkan rendemen gula yang dapat meningkatkan
hasil produksi gula. Ini adalah kebijakan alternative untuk mendukung program
pemerintah dalam upaya peningkatan swasembada nasional. Sehingga optimalisasi
tehnologi penggilingan dapat menjadi kebijakan alternative, selain peremajaan
pabrik gula.
Kata
Kunci : Industri, Optimalisasi, Swasembada, Giling,
dan Gula.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri
gula merupakan salah satu industri terpenting bagi Indonesia. Tahun 1928,
Indonesia mampu menghasilkan tiga perempat dari ekspor jawa keseluruhan dan
industri itu telah menyumbang seperempat dari seluruh penerimaan pemerintah
Hindia Belanda. Pada masa itu terdapat 178 pabrik gula yang mengusahakan
perkebunan-perkebunan di Jawa dengan luas areal tebu yang dipanen kira-kira
200.000 hektar dan menghasilkan hampir 3 juta ton gula dimana hampir separuhnya
diekspor, saat itu Jawa merupakan eksportir gula kedua terbesar di dunia
setelah Kuba (Mubyarto, 2009)
Namun,
di abad ini, justru setelah Indonesia terlepas dari tangan-tangan penjajah,
seolah-olah terlepas juga zaman keemasan
industri gula di tanah air. Dari tahun ke tahun, produksi gula semakin menurun
sedangkan jumlah penduduk semakin meningkat. Meskipun beberapa tahun terakhir
secara kuantitas terjadi kenaikan jumlah produksi gula namun jika dibandingkan
dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, masih dirasa sangat kurang.
Menurut
statistik ditjen perkebunan tahun 2012 dan DGI tahun 2013, luas lahan, produksi
tebu, rendemen dan produksi gula domestik selama 8 tahun terakhir belum mengalami
kenaikan yang signifikan dan cenderung stabil dari tahun ke tahun.Artinya pengadaan
program swasembada gula guna meningkatkan produksi gula nasional sangat
diperlukan.
Swasembada
gula adalah mampu memenuhi konsumsi gula nasional melalui produksi gula yang
bersumber dari areal rakyat dan areal tebu swasta. (Dr. Haryono, 2012)
Swasembada gula untuk konsumsi masyarakat
sudah pernah dicapai pada tahun 2008 dengan tingkat produksi sebesar 2,7 juta
ton. Sedangkan, swasembada gula yang ditargetkan dicapai pada tahun 2014 adalah
swasembada gula, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun untuk memenuhi
kebutuhan industry, dengan target 5,7 juta ton.
Permasalah industri gula saat ini
adalah pada optimalisasi kapasitas giling. Masalah optimalisasi masih menjadi
pekerjaan rumah yang belum bisa diselesaikan. Masalah optimalisasi ini juga
terkait erat dengan tingkat teknologi yang ada di pabrik gula. Saat ini
terdapat sekitar 62 PG indonesia. Kapasitas pabrik berkisar 2.500 ton tebu per
hari (TCD) sampai 6.000 TCD. Ada beberapa PG yang berkapasitas 12.000 TCD
sampai 14.000 TCD seperti Indo lampung dan Gunung Madu.
Pemanfaatan tehnologi
penggilingan pabrik gula di Indonesia masih didominasi
teknologi yang relatif ketinggalan zaman. Semuaini menjadi faktor rendahnya produktivitas dan rendemen gula. Untuk
mengatasi kendala ini perlu diadakan pengoptimalisasi tehnologi. Pengoptimalisasi
tehnologi harus dilakukan secara menyeluruh, dari semua aspek produksi
peningkatan kapasitas giling, hal ini sudah terbukti dari belasan pabrik baru
yang dibangun di era tahun 80an dengan kapasitas rata-rata hampir 5000 tcd
performancenya sangat jelek.
Kapasitas giling dari pabrik gula yang ada di
seluruh Indonesia mencapai 205.000 ton tebu per hari (TCD). Dengan asumsi 170
hari giling dan rendemen 9 persen, maka produksi yang bisa dihasilkan
seharusnya mencapai 3,1 juta ton gula per tahun. Seharusnya angka itu sudah
mampu memenuhi kebutuhan gula kristal putih (GKP)/gula konsumsi, namun kini
produksi GKP hanya di kisaran 2,5 juta ton pada tahun ini.
Dari
fakta di atas mendorong kelompok kami untuk membuat penelitian guna mengetahui
pengaruh optimalisasi tehnologi pabrik gula dalam peningkatan produksi gula di
Indonesia.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
tingkat optimalisasi tehnologi giling pabrik gula di Indonesia ?
2. Apakah
optimalisasi tehnologi giling tebu dapat
meningkatkan produksi gula di Indonesia ?
1.3 Tujuan
1.
Menentukan tingkat optimalisasi produksi
pabrik gula di Indonesia.
2.
Untuk mengetahui optimalisasi tehnologi
pabrik gula dapat meningkatkan produksi gula nasional.
1.4 Manfaat
1.
Dapat membantu pemerintah memberikan
kebijakan agar target swasembada gula nasional dapat tercapai.
2.
Bagi pabrik tebu, hasil penelitian ini
dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memaksimalkan produksi gula.
3.
Bagi pihak lain yang berkepentingan,
penelitian ini dapat dipergunakan sebagai bahan informasi untuk pengembangan
penelitian selanjutnya.
BAB
II
LANDASAN
TEORI DAN HIPOTESIS
2.1
LANDASAN TEORI
2.1.1
Sejarah Pabrik Gula Gondang Baru
Pabrik Gula Gondang Baru adalah salah satu pabrik gula
yang berdiri pada awal abad XIX di Jawa. Pabrik Gula yang berada di
Kabupaten Klaten Jawa Tengah ini semula bernama Pabrik Gula Gondang Winangoen.
Pabrik ini didirikan tahun 1860 oleh N.V. Klatensche Cultur Maatschappij yang
berkedudukan di Amsterdam Belanda. Pada awal berdirinya pengelolaanya dilakukan
oleh keluarga Jongkhervan der Wijk. Kemudian pengelolaanya dilakukan oleh N.V
Mirrandolle Voute & Co yang berkedudukan di Semarang. Nama pabrik gula
Gondang Winagoen diambila dari nama Kawedanan tempat pabrik didirikan. Pabrik
Gula Gondang Winagoen terletak 4,5 km sebelah barat kota Klaten dipinggir
jalan raya yang menghubungkan dua kerajaan besar nyaiut Kasunanan
Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Tepatnya di Kawedanan Gondang Winangoen,
onderdestric Jogonalan wialyah Karesidenan Surakarta, sekarang Pabrik Gula
Gondang Winangoen masuk wilayah Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Pada
waktu itu wilayah kerja PG Gondnag Winangoen terbagi dalam berbagai daerah
perkebunan yaitu afdeling Joton, Besaran, Padapa, Krapyak, Tangkiasn Pos,
Demangan, Ketandan, Gempol, Jiwo, dan Ceper.
Pada
masa pendudukan Jepang semua perkebunan termasuk pabrik gula diambil
alih dan ditempatkan dibawah pengawasan dan penguasaan pemerintah
militerjepang yang dipegang oleh niso dan Inogoki, sementara pimpinan lama
dididukan sebagai penasehat ahli. Namum setelah pemerintahan Jepang semakin
kuat mulai diadakan perubahan-perubahan. Pengelolaan selanjutnya dilakukan oleh
badan usaha Jepang bernama Taiwon Seiko Kebushiki Keisa. Setelah proklamasi
kemerdekaan Indonesia PG tidak berubah, kemudian pada minggu pertama bulan
Oktober 1945 perkebunan dan pabrik gula diambila alih oleh pejuang dan
Direksinya diganti tenaga bangsa Indonesia. Pada tahun 1946- 1948 pabrik
menghentikan produksinya karena perang.
Setelah masa kemerdekaan pimpinan pabrik gula Gondang Winangoen dipercayakan pada Doekoet, yang merupakan Administratur pertama orang Indonesia dipabrik tersebut. Pada tahun 1948 pimpinan beralih pada Ali Basyad sampai tahun 1950, sebagai akibat dari KMB maka pemerintah Indonesia harus menjamin keutuhan usaha milik Belanda di Indonesia harus dikembaliakn kepada pemilik semula. Maka PG Gondang Winagoen juga dikemblaikan dan pimpinan beralih kepada MFH Bremmers, selanjutnya berturut-turut dipegang oleh Tn. Van Beneiden dan GF Bernet. Ketika hubungan Indonesia-Blanda maskin genting menyangkut masalah Irian Barat maka dikeluarkan peraturan militer No. 1063/PMT/1957 semua perusahaan Belanda dinasionalisasikan. Pimpinan PG Gondang Winangoen kemudian dipegang oleh Ir. Imam Soena, kemudian dipimpin oleh Ir. Umar Hawari, Bsc.
Pasca tahun 1957, pabrik gula diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Negara Unit Semarang, kemudian di PG Gondang Winagoen diganti nama menjadi PG Gondang Baru PT. berdasrkan PP No. 164/1964 tanggal 1 juli 1964 PG Gondang Baru PT dimasukan dalam PPN Jawa Tengah V Surakarta dengan menjadi PG Gondang Baru. PP No. 14/1968 membubarkan PPN Jawa Tengah V dan membentuk Perusahaan Negara Perkebunan (PNP)XVI yang berkedudukan di Sala, maka PG Gondang Baru masuk dalam PNP XVI ini. Sejak tanggal 1 April 1981 PNP XVI dibubarkan dan digabung dengan PTP XV(Persero) dan menjadi PT Perkebunan XV – XVI(Persero) yang berkedudukan di Surakarta.
Dalam memproses tebu menjadi gula, PG. Gondang Baru merupakan satu-satunya pabrik gula yang menggunakan Sistem Karbonatasi Rangkap. yaitu cara pengolahan gula dimana dalam pemurnian Nira digunakan gas CO2 sehingga mampu menghasilkan kristal gula yang lebih berkualitas. Dan dalam operasionalnya PG. Gondang Baru jg masih menggunakan mesin-mesin bertenaga uap asli dari masa revolusi industri dan masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
Setelah masa kemerdekaan pimpinan pabrik gula Gondang Winangoen dipercayakan pada Doekoet, yang merupakan Administratur pertama orang Indonesia dipabrik tersebut. Pada tahun 1948 pimpinan beralih pada Ali Basyad sampai tahun 1950, sebagai akibat dari KMB maka pemerintah Indonesia harus menjamin keutuhan usaha milik Belanda di Indonesia harus dikembaliakn kepada pemilik semula. Maka PG Gondang Winagoen juga dikemblaikan dan pimpinan beralih kepada MFH Bremmers, selanjutnya berturut-turut dipegang oleh Tn. Van Beneiden dan GF Bernet. Ketika hubungan Indonesia-Blanda maskin genting menyangkut masalah Irian Barat maka dikeluarkan peraturan militer No. 1063/PMT/1957 semua perusahaan Belanda dinasionalisasikan. Pimpinan PG Gondang Winangoen kemudian dipegang oleh Ir. Imam Soena, kemudian dipimpin oleh Ir. Umar Hawari, Bsc.
Pasca tahun 1957, pabrik gula diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Negara Unit Semarang, kemudian di PG Gondang Winagoen diganti nama menjadi PG Gondang Baru PT. berdasrkan PP No. 164/1964 tanggal 1 juli 1964 PG Gondang Baru PT dimasukan dalam PPN Jawa Tengah V Surakarta dengan menjadi PG Gondang Baru. PP No. 14/1968 membubarkan PPN Jawa Tengah V dan membentuk Perusahaan Negara Perkebunan (PNP)XVI yang berkedudukan di Sala, maka PG Gondang Baru masuk dalam PNP XVI ini. Sejak tanggal 1 April 1981 PNP XVI dibubarkan dan digabung dengan PTP XV(Persero) dan menjadi PT Perkebunan XV – XVI(Persero) yang berkedudukan di Surakarta.
Dalam memproses tebu menjadi gula, PG. Gondang Baru merupakan satu-satunya pabrik gula yang menggunakan Sistem Karbonatasi Rangkap. yaitu cara pengolahan gula dimana dalam pemurnian Nira digunakan gas CO2 sehingga mampu menghasilkan kristal gula yang lebih berkualitas. Dan dalam operasionalnya PG. Gondang Baru jg masih menggunakan mesin-mesin bertenaga uap asli dari masa revolusi industri dan masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
2.1.2
Gula
Gula adalah
suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energy dan komoditi perdagangan
utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk Kristal sukrosa padat.
Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau
minuman. Gula sederhana, seperti glukosa ( yang diproduksi dari sukrosa dengan
enzim atau hidrolisis asam ), menyimpan energi akan digunakan oleh sel.
2.1.2.1
Gula Tebu
Gula
tebu kebanyakan dipasarkan dalam bentuk gula Kristal curah. Pertama- pertama
bahan mentah dihancurkan dan diperas sarinya, dikumpulkan dan disaring. Cairan
yang dibentuk kemudian ditambahkan bahan tambahan ( biasanya menggunakan
kalsium oksida ) untuk menghilangkan ketidakmurnian campuran tersebut kemudian
diputihkan dengan belarang dioksida. Campuran yang terbentuk kemudian didihkan
endapan dan sampah yang mengambang, kemudian dapat dipisahkan. Setelah cukup
murni, cairan didinginkan dan dikristalkan ( biasanya sambil diaduk) untuk
memproduksi gula yang dapat dituang kecetakan. Sebuah mesin sentrifugal juga
dapat digunakan pada proses kristalisasi.
2.1.3
Swasembada gula
Swasembada gula adalah mampu memenuhi konsumsi gula
nasional melalui produksi gula yang bersumber dari areal rakyat dan areal tebu
swasta. Hal ini disampaikan Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono dalam
makalahnya yang berjudul “Upaya Pencapaian Swasembada Gula Nasional 2012” di
depan peserta rapat kerja Badan Litbang Pertanian.
Bagi Indonesia, mewujudkan swasembada gula
sebenarnya sangatlah tidak sulit. Indonesia merupakan negeri yang potensial
menjadi produsen gula dunia. Selain agroekosistemnya mendukung, luas lahan dan
sumber daya manusianya juga sangat mencukupi. Tentu saja, hal ini juga harus
dilakukan secara terpadu oleh semua pihak terkait.
Untuk
diketahui, saat ini industri gula di Indonesia sendiri baru didukung oleh 59
pabrik gula (PG) dan 8 pabrik gula rafinasi (PGR). Yang perlu diperhatikan,
bahwa PG-PG yang berada di Pulau Jawa saat ini kondisinya relatif kurang
produktif dikarenakan faktor usianya yang banyak sudah tua. Selain itu, PG-PG
ini juga sangat tergantung kepada petani tebu yang luas arealnya di Jawa ini
sudah sangat terbatas. Sementara itu, pabrik gula Rafinasi yang ada pun belum
berproduksi secara optimal. Tercatat, sampai 2008 lalu utilisasi kapasitasnya
baru sekitar 40% - 60%.
Tabel 1 Data Luas
Lahan, Produksi Tebu, Rendemen, dan Produksi Gula Indonesia tahun 2006-2013
Sumber: statistik ditjen perkebunan
tahun 2012 dan DGI tahun 2013 (http://asosiasigulaindonesia.org)
Luas lahan, produksi
tebu, rendemen dan produksi gula domestik selama 8 tahun terakhir belum
mengalami kenaikan yang signifikan dan cenderung stabil dari tahun ke tahun.
Artinya pengadaan program swasembada gula guna meningkatkan produksi gula
nasional sangat diperlukan.
Target pencapaian swasembada gula menurut Dewan Gula
Indonesia (2009) terbagi atas 3 tahap yaitu: (1) swasembada gula konsumsi untuk
memenuhi kebutuhan langsung rumah tangga pada tahun 2009 sebesar 2,7 juta ton,
yang ditargetkan dipenuhi pada tahun 2008, (2) swasembada gula konsumsi
langsung rumah tangga, industri dan sekaligus mencapai neraca perdagangan gula
nasional tahun 2010-2014, (3) swasembada gula berdaya saing mulai dari tahun
2015-2025 yang difokuskan pada modernisasi industri berbasis tebu melalui
pengembangan industri produk pendamping tebu (PPGT) yang memiliki nilai tambah.
Saat ini
Indonesia menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2014, yaitu hasil
produksi gula berkisaran 2,5 juta ton per tahun. Namun angka tersebut masih
tergolong rendah bila dibandingkan dengan target swasembada sebelumnya, yaitu
hasil produksi dikisaran 3,1 juta ton per tahun.
2.1.4
Industri Gula
Indonesia
pernah mengalami era kejayaan industri gula pada tahun 1930-an. Saat itu pabrik
gula yang beroperasi adalah 179 pabrik gula (PG). Produktivitas sekitar 14,8
persen dan rendemen mencapai 11 – 13,8 persen. Ekspor gula pernah mencapai
sekitar 2,4 juta ton dengan produksi puncak mencapai sekitar 3 juta ton (Sudana
et al., 2000).
Pada
periode 1991 – 2001, industi gula Indonesia mulai menghadapi berbagai masalah
yang signifikan. Salah satu indikator masalah industri gula Indonesia adalah
kecenderungan volume impor yang terus meningkat dengan laju 16,6 persen per
tahun pada periode tersebut. Hal ini terjadi karena ketika konsumsi terus
meningkat dengan lanjut 2,96 persen per tahun, produksi gula dalam negeri
dengan laju 3,03 persen per tahun. Pada limah tahun 1997 – 2002, produksi gula
bahkan mengalami penurunan dengan laju 6, 14 persen per tahun (Dewan Gula
Indonesia, 2002).
Permasalah
industri gula saat ini adalah pada optimalisasi kapasitas giling. Masalah
optimalisasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum bisa diselesaikan. Masalah
optimalisasi ini juga terkait erat dengan tingkat teknologi yang ada di pabrik
gula. Saat ini terdapat sekitar 62 PG indonesia. Kapasitas pabrik berkisar
2.500 ton tebu per hari (TCD) sampai 6.000 TCD. Ada beberapa PG yang
berkapasitas 12.000 TCD sampai 14.000 TCD seperti Indo lampung dan Gunung Madu.
Pemanfaatan
tehnologi penggilingan pabrik gula di Indonesia masih didominasi
teknologi yang relatif ketinggalan zaman. Semuaini menjadi faktor rendahnya produktivitas dan rendemen gula. Untuk
mengatasi kendala ini perlu diadakan pengoptimalisasi tehnologi. Pengoptimalisasi
tehnologi harus dilakukan secara menyeluruh, dari semua aspek produksi
peningkatan kapasitas giling, hal ini sudah terbukti dari belasan pabrik baru
yang dibangun di era tahun 80an dengan kapasitas rata-rata hampir 5000 tcd
performancenya sangat jelek seperti halnya PG. Gondang Baru yang telah berumur
lebih dari satu abad.
Kapasitas giling dari
pabrik gula yang ada di seluruh Indonesia mencapai 205.000 ton tebu per hari
(TCD). Dengan asumsi 170 hari giling dan rendemen 9 persen, maka produksi yang
bisa dihasilkan seharusnya mencapai 3,1 juta ton gula per tahun. Seharusnya
angka itu sudah mampu memenuhi kebutuhan gula kristal putih (GKP)/gula
konsumsi, namun kini produksi GKP hanya di kisaran 2,5 juta ton pada tahun 2013.
2.1.5 Rendemen Tebu
Rendemen tebu merupakan kandungan yang
terdapat pada tebu. Dalam prosesnya ternyata rendemen yang dihasilkan oleh
tanaman dipengaruhi oleh keadaan tanaman dan proses penggilingan di pabrik.
Untuk mendapatkan rendemen yang tinggi, tanaman harus bermutu baik dan ditebang
pada saat yang tepat. (Purwono, 2003:56).
Notojoewono (1984)
menyatakan kehilangan gula dari saat tebang sampai akhir pengolahan dapat
mencapai 35 persen. Kehilangan yang terjadi pada saat tebang sampai giling
berkisar 5 sampai 25 persen. Kehilangan ini terutama disebabkan keterlambatan
giling sehingga tebu menjadi rusak. Kerusakan tebu tidak hanya menyebabkan
kehilangan gula, tetapi juga menyebabkan pengolahan tebu menjadi gula lebih
sulit.
Menurut Mochtar (1982), kehilangan gula
akibat penundaan giling lebih besar dari
pada kehilangan yang terjadi dalam proses pengolahan. Adapun jenis
penundaan yang terjadi sebagai berikut: 1. Di kebun, yaitu pada waktu
penebangan, memotong, menumpuk tebu, dan memuat ke alat pengangkut. 2.
Penundaan akibat pengangkutan dapat disebabkan oleh jarak, keadaan jalan,
cuaca, dan arus lalu lintas dari kebun ke pabrik. 3. Di pabrik, penundaan
karena menunggu untuk digiling.
2.1.6
Optimalisasi Tehnologi Giling
Optimalisasi adalah tindakan untuk
memperoleh hasil yang terbaik dengan keadaan yang diberikan. Dalam desain,
konstruksi, dan pemeliharaan dari sistem teknik,harus diambil beberapa
teknologi dan keputusan managerial dalam beberapa tahap. Tujuan akhir dari
semua keputusan seperti itu adalah meminimalkan upaya yang diperlukan atau
untuk memaksimalkan manfaat yang diinginkan.
Selama ini, optimalisasi tehnologi
pabrik gula di Indonesia hanya beranggapan untuk mencapai hasil yang optimal
yaitu dengan menggunakan mesin dengan kapasitas penggiling maksimal. Saat mesin
selalu pada kapasitas maksimal maka kerja mesin selalu dalam keadaan berat, ini
semua dapat menimbulkan penurunan peformace mesin tersebut. Sehingga mesin
selalu mengalami penurunan, walaupun masalah ini tidak terlalu mempengaruhi
secara signifikan namun dapat diperhitungkan bila mesin sudah berumur tua.
2.2
Hipotesis
Menurut pandangan dan dugaan penulis. Dapat diperkirakan
bahwa optimalisasi tehnologi penggilingan pada pabrik gula dapat meningkatkan
produksi gula. Dengan meningkatnya produksi gula, swasembada akan meningkat.
BAB III
METODOLOGI
3.1
Jenis Penelitian
Penelitian deskriptif kualitatif termasuk salah satu penelitian
kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mengangkat
fakta, keadaan, variable, dan fenomena-fenomena yang terjadi ketika penelitian berlangsung
dan mennyajikannya apa adanya.(Moleong,2002:3)
3.2
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian
kami lakukan pada tanggal 17 Maret 2014 sampai 29 Agustus 2014 di SMAN 1
Purwoharjo dan di Pabrik Gondang Baru terletak kurang lebih 5 km dari kota
Klaten, tepatnya berada di desa Plawikan, kecamatan Jogonalan, Kabupaten
Klaten.
3.3
Tehnik Penganbilan Data
3.3.1
study literatur
kami menggunakan metode literatur dengan mencari data dari
berbagai macam buku yang didapat dari perpustakaan maupun browsing dari
internet.
3.3.2
observasi
Observasi dilakukan
melalui pengamatan secara langsung terhadap fenomena fenomena yang akan
diteliti dimana peneliti melakukan pengamatan atau pemusatan perhatian terhadap
objek menggunakan seluruh alat indera (Arikunto,1998:146)
3.3.3
Wawancara
Kami menggunakan metode wawancara dengan karyawan pabrik
gulaGondang Baru.
3.4 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan penggabungan hasil data yang
diperoleh dari studi literatur, browsing di internet, observasi dan wawancara
untuk menarik kesimpulan sesuai dengan analisis permasalahannya.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Pada tanggal 18
juni 2014, Karyawan PG Gondang Baru mengatakan bahwa kapasitas giling pabrik
gula mempengaruhi hasil produksi gula. Mesin penggiling yang digunakan
tergolong sangat tua yaitu B LAHAYE & BRISSONEANT buatan Prancis tahun 1884
yang sampai saat ini masih bisa berfungsi. Terhalangnya dana menjadikan alasan
tidak dilakukan peremajaan mesin-mesin di pabrik tersebut. Kebijakan-kebijakan
yang telah dilakukan untuk meningkatkan produksi salah satunya adalah tebu yang
telah ditebang, secepatnya diangkut ke pabrik gula untuk segera digiling.
4.2
Pembahasan
Gula adalah
suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energy dan komoditi perdagangan
utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk Kristal sukrosa padat.
Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau
minuman. Gula sederhana, seperti glukosa ( yang diproduksi dari sukrosa dengan
enzim atau hidrolisis asam ), menyimpan energi akan digunakan oleh sel.
Produksi
gula yang dari tahun 2006 hingga 2013, tidak mengalami peningkatan masih
berkisar 2,3 juta ton padahal luas lahan dan produksi tebu tiap tahunnya mengalami
peningkatan. Pada tahun 2006 luas lahan tebu 396.440 Ha menjadi 460.496 Ha.
Produksi tebu juga mengalami peningkatan, produksi tebu pada tahun 2006 adalah
29.179.299 ton menjadi 35.378.805 ton pada tahun 2013 (statistik ditjen
perkebunan tahun 2012 dan DGI tahun 2013). Berbagai cara telah diusung sebagai
upaya dalam peningkatan swasembada gula nasional. Salah satunya dengan cara
optimalisasi tehnologi penggilingan pabrik gula.
Berdasarkan
hasil penelitian, produksi gula sangat dipengaruhi oleh tingkat rendemen tebu,
sedang tingkat rendemen tebu dipengaruhi juga pada proses penggilingan tebu.
Tujuan penggilingan, untuk memerah batang tebu sebanyak-banyaknya sehingga
memisahkan nira dari ampas tebunya. Dan untuk menghindari kehilangan gula
karena mikroorganisme di dalam nira maka harus dilakukan tindakan antara lain :
1) luas permukaan yang langsung berkontak dengan nira dilapisi oleh tembaga, 2)
pembersihan periodic alat penggiling, 3) mengusahakan waktu tinggal terhadap
nira di stasiun gilingan sependek mungkin.
Optimalisasi
tehnologi penggilingan, ternyata dapat meningkatkan rendemen gula yang dapat
meningkatkan hasil produksi gula. Ini adalah kebijakan alternative untuk
mendukung program pemerintah dalam upaya peningkatan swasembada nasional sehingga
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar mencapai hasil yang optimal.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
1. Hasil produksi gula dapat ditingkatkan dengan
mengupayakan kebijakan pada proses penggilingan yang tepat agar rendemen gula
tidak hilang.
2.Berdasarkan hasil penelitian, optimalisasi
tehnologi peggilingandapat meningkatkan peran pabrik gula dalam peningkatan
swasembada gula nasional.
3.Optimalisasi tehnologi penggilingan dapat menjadi
kebijakan alternative, selain peremajaan pabrik gula.
5.2
Saran
1. Diharapkan pengelola pabrik gula dapat menerapkan
kebijakan optimalisasi tehnologi penggilingan sebagai sarana peningkatan
produksi gula.
2. Diharapkan pemerintah dapat memberikan edukasi
terhadap petani tebu terhadap tingkat rendemen tebu untuk meningkatkan
swasembada gula
DAFTAR
PUSTAKA
Mubyarto.1984.Masalah Gula Indonesia.yogyakarta:BPFE
Nurhati, Fitri., 2013.Lima
Pilar Menuju Swasembada Gula Nasional.Yogyakarta.
Haryono, 2012. Upaya Pencapaian Swasembada Gula Nasional 2014.Retrived
Noeltrg, 2012. Swasembada Gula 2014 Meramu Potensi Agar Harga Gula
Tetap Manis. Retrieved
Ditkeb, 2012. Produksi gula Indonesia.. Ditjen Perkebunan, Jakarta
Fortekindo, 2013.PABRIK
GULA GONDANG BARU KLATEN JATENG. Retrieved
http://fortekindo-tour.blogspot.com/2013/07/pabrik-gula-gondang-baru-klaten-jateng.html
LAMPIRAN
Format
wawancara dengan pegawai pabrik gula :
1. Apakah
kapasitas giling mempengaruhi hasil produksi pabrik gula ?
2. Mesin apa yang digunakan pabrik gondang baru dan berapa
kapasitas gillingya?
3. Bagaimana
peformancenya pabrik gula Gondang Baru saat ini ?
4. Untuk mencapai target swasembada gula nasional sepertinya
sulit dicapai. Mengapa pabrik gula gondang baru tidak menggunakan teknologi
yang terbaru? dengan kapasitas gillingnya yang lebih tinggi.
5. Kebijakan
apa sajakah yang menyangkut proses penggilingan yang sudah diupayakan oleh
pabrik gula Gondang Baru untuk meningkatkan hasil produksi ?
Label:
LKTI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar: