Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Diberdayakan oleh Blogger.
Senin, 14 November 2016
OPTIMALISASI TEKNOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM PENINGKATAN SWAGUNAS
( SWASEMBADA GULA NASIONAL )





Disusun Oleh  :

1.      Nanda Tri Armada (Ketua )
NIS : 7359
2.      Shofiyatus Sholeha (Anggota)
NIS : 7413
3.      Pemilda Alpania M. (Anggota)
NIS : 7380

SMA NEGERI 1 PURWOHARJO
Jalan Slamet Cokro Telp. (0333) 396475 Purwoharjo, Banyuwangi
email. sman1pwhj@yahoo.co.idwebsite. sman1purwoharjo.com
2014



OPTIMALISASI TEKNOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM PENINGKATAN SWAGUNAS
( SWASEMBADA GULA NASIONAL )





Disusun Oleh  :
1.      Nanda Tri Armada (Ketua )
NIS : 7359
2.      Shofiyatus Sholeha (Anggota)
NIS : 7413
3.      Pemilda Alpania M. (Anggota)
NIS : 7380

SMA NEGERI 1 PURWOHARJO
Jalan Slamet Cokro Telp. (0333) 396475 Purwoharjo, Banyuwangi
email. sman1pwhj@yahoo.co.idwebsite. sman1purwoharjo.com
2014


HALAMAN PENGESAHAN

1.      Judul Karya Tulis            : OPTIMALISASI TEKNOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM PENINGKATAN SWAGUNAS (SWASEMBADA GULA NASIONAL)
2.      Ketua Kelompok
a.       Nama                         : Nanda Tri Armada
b.      NIS                            : 7359
c.       Kelas                          : XII MIA 2
3.         Anggota Penulis             
Anggota 1                   : Shofiyatus Sholeha
NIS                             : 7413
Anggota 2                   : Pemilda Alphania M.
            NIS                             : 7380
Banyuwangi, 20 Oktober 2014
 Pembimbing I                                                                         Ketua Kelompok


Norma Hidayati, S. Pd                                                           Nanda Tri Armada
NIP: 19720404 200701 2 016                                                                        NIS:7359

Guru Pembimbing II




Djuber, S.Pd
NIP:
Mengetahui,
Wali Kelas                                                                   Kepala Sekolah


Eko Purwanto                                                             Nurhadi Sutjipto, S.Pd NIP:89687969759956                                                           NIP: 19580810 198403 1 016



KATA PENGANTAR


            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWTkarena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyusun Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul “OPTIMALISASI TEKNOLOGI GILING PABRIK GULA DALAM PENINGKATAN SWAGUNAS (SWASEMBADA GULA NASIONAL)
            Pada dasarnya Karya Tulis ilmiah ini memiliki harapan, dapat bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya dalampeningkatan produksi gula di Indonesia.
            Terima kasih kepada Bapak Kepala SMA Negeri 1 Purwoharjo, Bapak Nurhadi Sutjipto, S.Pd, Bapak Eko Purwanto, S.Pd selaku wali kelas kami, Bapak Djuber, S.Pd dan Ibu Norma Hidayah, S.Pd selaku guru pembimbing kami dan orang tua serta teman-teman yang telah mendukung dan membantu kami dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
            Kami menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini disusun dengan berbagai keterbatasan sehingga kritik dan saran sangat kami harapkan.





Purwoharjo,  Oktober 2014


Penyusun






DAFTAR ISI

Halaman Judul.....................................................................................................i
Lembar Pengesahan ............................................................................................ii
Kata Pengantar ...................................................................................................iii
Daftar Isi ............................................................................................................iv
Abstrak ...............................................................................................................v
Isi
BAB I : PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ...................................................................................1
1.2  Rumusan Masalah...............................................................................2
1.3  Tujuan ................................................................................................2
1.4  Manfaat...............................................................................................3
BAB II  : LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
         2.1 Landasan Teori
                        2.1.1  Sejarah Pabrik Gula …………….......................................4
                        2.1.2  Gula....................................................................................5
                                    2.1.2.1 Gula Tebu………………………………………..6
                        2.1.3  Swasembada Gula .............................................................6
                        2.1.4  Industri Gula ......................................................................8
                        2.1.5  Rendemen Tebu .................................................................9
                        2.1.6  Optimalisasi Tehnologi Giling ..........................................9
         2.2 Hipotesis.............................................................................................10
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian...................................................................................11
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ...........................................................11
3.3 Tehnik Pengambilan data……….......................................................11
3.4 Analisis data………...........................................................................11
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil...................................................................................................12
4.2 Pembahasan.......................................................................................12

BAB V : PENUTUP
5.1 Kesimpulan .......................................................................................14
5.2 Saran..................................................................................................14
Daftar Pustaka
Lampiran
ABSTRAK

Industri gula merupakan salah satu industri terpenting bagi Indonesia. Tahun 1928, Indonesia mampu menghasilkan tiga perempat dari ekspor jawa keseluruhan dan industri itu telah menyumbang seperempat dari seluruh penerimaan pemerintah Hindia Belanda.Swasembada gula untuk konsumsi masyarakat sudah pernah dicapai pada tahun 2008 dengan tingkat produksi sebesar 2,7 juta ton. Sedangkan, swasembada gula yang ditargetkan dicapai pada tahun 2014 adalah swasembada gula, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun untuk memenuhi kebutuhan industry, dengan target 5,7 juta ton.Pemanfaatan tehnologi penggilingan pabrik gula di Indonesia masih didominasi teknologi yang relatif ketinggalan zaman. Semuaini menjadi faktor rendahnya produktivitas dan rendemen gula. Untuk mengatasi kendala ini perlu diadakan pengoptimalisasi tehnologi. Pengoptimalisasi tehnologi harus dilakukan secara menyeluruh, dari msemua aspek produksi peningkatan kapasitas giling, hal ini sudah terbukti dari belasan pabrik baru yang dibangun di era tahun 80an dengan kapasitas rata-rata hampir 5000 tcd performancenya sangat jelek.Luas lahan, produksi tebu, rendemen dan produksi gula domestik selama 8 tahun terakhir belum mengalami kenaikan yang signifikan dan cenderung stabil dari tahun ke tahun. Artinya pengadaan program swasembada gula guna meningkatkan produksi gula nasional sangat diperlukan. Metode yang kami gunakan deskriptif kualitatif yaitu bertujuan untuk mengangkat fakta, keadaan, variable, dan fenomena-fenomena yang terjadi ketika penelitian berlangsung dan mennyajikannya apa adanya.Optimalisasi tehnologi penggilingan, ternyata dapat meningkatkan rendemen gula yang dapat meningkatkan hasil produksi gula. Ini adalah kebijakan alternative untuk mendukung program pemerintah dalam upaya peningkatan swasembada nasional. Sehingga optimalisasi tehnologi penggilingan dapat menjadi kebijakan alternative, selain peremajaan pabrik gula.
Kata Kunci : Industri, Optimalisasi, Swasembada, Giling, dan Gula.





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Industri gula merupakan salah satu industri terpenting bagi Indonesia. Tahun 1928, Indonesia mampu menghasilkan tiga perempat dari ekspor jawa keseluruhan dan industri itu telah menyumbang seperempat dari seluruh penerimaan pemerintah Hindia Belanda. Pada masa itu terdapat 178 pabrik gula yang mengusahakan perkebunan-perkebunan di Jawa dengan luas areal tebu yang dipanen kira-kira 200.000 hektar dan menghasilkan hampir 3 juta ton gula dimana hampir separuhnya diekspor, saat itu Jawa merupakan eksportir gula kedua terbesar di dunia setelah Kuba (Mubyarto, 2009)
Namun, di abad ini, justru setelah Indonesia terlepas dari tangan-tangan penjajah, seolah-olah terlepas  juga zaman keemasan industri gula di tanah air. Dari tahun ke tahun, produksi gula semakin menurun sedangkan jumlah penduduk semakin meningkat. Meskipun beberapa tahun terakhir secara kuantitas terjadi kenaikan jumlah produksi gula namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, masih dirasa sangat kurang.
            Menurut statistik ditjen perkebunan tahun 2012 dan DGI tahun 2013, luas lahan, produksi tebu, rendemen dan produksi gula domestik selama 8 tahun terakhir belum mengalami kenaikan yang signifikan dan cenderung stabil dari tahun ke tahun.Artinya pengadaan program swasembada gula guna meningkatkan produksi gula nasional sangat diperlukan.
            Swasembada gula adalah mampu memenuhi konsumsi gula nasional melalui produksi gula yang bersumber dari areal rakyat dan areal tebu swasta. (Dr. Haryono, 2012)
            Swasembada gula untuk konsumsi masyarakat sudah pernah dicapai pada tahun 2008 dengan tingkat produksi sebesar 2,7 juta ton. Sedangkan, swasembada gula yang ditargetkan dicapai pada tahun 2014 adalah swasembada gula, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun untuk memenuhi kebutuhan industry, dengan target 5,7 juta ton.
            Permasalah industri gula saat ini adalah pada optimalisasi kapasitas giling. Masalah optimalisasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum bisa diselesaikan. Masalah optimalisasi ini juga terkait erat dengan tingkat teknologi yang ada di pabrik gula. Saat ini terdapat sekitar 62 PG indonesia. Kapasitas pabrik berkisar 2.500 ton tebu per hari (TCD) sampai 6.000 TCD. Ada beberapa PG yang berkapasitas 12.000 TCD sampai 14.000 TCD seperti Indo lampung dan Gunung Madu.
Pemanfaatan tehnologi penggilingan pabrik gula di Indonesia masih didominasi teknologi yang relatif ketinggalan zaman. Semuaini menjadi faktor rendahnya produktivitas dan rendemen gula. Untuk mengatasi kendala ini perlu diadakan pengoptimalisasi tehnologi. Pengoptimalisasi tehnologi harus dilakukan secara menyeluruh, dari semua aspek produksi peningkatan kapasitas giling, hal ini sudah terbukti dari belasan pabrik baru yang dibangun di era tahun 80an dengan kapasitas rata-rata hampir 5000 tcd performancenya sangat jelek.
Kapasitas giling dari pabrik gula yang ada di seluruh Indonesia mencapai 205.000 ton tebu per hari (TCD). Dengan asumsi 170 hari giling dan rendemen 9 persen, maka produksi yang bisa dihasilkan seharusnya mencapai 3,1 juta ton gula per tahun. Seharusnya angka itu sudah mampu memenuhi kebutuhan gula kristal putih (GKP)/gula konsumsi, namun kini produksi GKP hanya di kisaran 2,5 juta ton pada tahun ini.
            Dari fakta di atas mendorong kelompok kami untuk membuat penelitian guna mengetahui pengaruh optimalisasi tehnologi pabrik gula dalam peningkatan produksi gula di Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana tingkat optimalisasi tehnologi giling pabrik gula di Indonesia ?
2.      Apakah optimalisasi tehnologi giling tebu dapat meningkatkan produksi gula di Indonesia ?



1.3  Tujuan
1.      Menentukan tingkat optimalisasi produksi pabrik gula di Indonesia. 
2.      Untuk mengetahui optimalisasi tehnologi pabrik gula dapat meningkatkan produksi gula nasional.


1.4  Manfaat
1.      Dapat membantu pemerintah memberikan kebijakan agar target swasembada gula nasional dapat tercapai.
2.      Bagi pabrik tebu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memaksimalkan produksi gula.
3.      Bagi pihak lain yang berkepentingan, penelitian ini dapat dipergunakan sebagai bahan informasi untuk pengembangan penelitian selanjutnya.




BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 LANDASAN TEORI
2.1.1 Sejarah Pabrik Gula Gondang Baru
            Pabrik Gula Gondang Baru adalah salah satu pabrik gula yang berdiri pada awal abad XIX di Jawa. Pabrik Gula yang  berada di Kabupaten Klaten Jawa Tengah ini semula bernama Pabrik Gula Gondang Winangoen. Pabrik ini didirikan tahun 1860 oleh N.V. Klatensche Cultur Maatschappij yang berkedudukan di Amsterdam Belanda. Pada awal berdirinya pengelolaanya dilakukan oleh keluarga Jongkhervan der Wijk. Kemudian pengelolaanya dilakukan oleh N.V Mirrandolle Voute & Co yang berkedudukan di Semarang. Nama pabrik gula Gondang Winagoen diambila dari nama Kawedanan tempat pabrik didirikan. Pabrik Gula Gondang Winagoen  terletak 4,5 km sebelah barat kota Klaten dipinggir jalan  raya yang menghubungkan dua kerajaan besar  nyaiut Kasunanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Tepatnya di Kawedanan Gondang Winangoen, onderdestric Jogonalan wialyah Karesidenan Surakarta, sekarang Pabrik Gula Gondang Winangoen masuk wilayah Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Pada waktu itu wilayah kerja PG Gondnag Winangoen terbagi dalam berbagai daerah perkebunan yaitu afdeling Joton, Besaran, Padapa, Krapyak, Tangkiasn Pos, Demangan, Ketandan, Gempol, Jiwo, dan Ceper.
Pada masa pendudukan Jepang semua perkebunan  termasuk pabrik gula diambil alih  dan ditempatkan  dibawah pengawasan dan penguasaan pemerintah militerjepang yang dipegang oleh niso dan Inogoki, sementara pimpinan lama dididukan sebagai penasehat ahli. Namum setelah pemerintahan Jepang semakin kuat mulai diadakan perubahan-perubahan. Pengelolaan selanjutnya dilakukan oleh badan usaha Jepang bernama Taiwon Seiko Kebushiki Keisa. Setelah proklamasi kemerdekaan  Indonesia PG tidak berubah, kemudian pada minggu pertama bulan Oktober  1945 perkebunan dan pabrik gula diambila alih oleh pejuang dan Direksinya diganti tenaga bangsa Indonesia. Pada tahun 1946- 1948 pabrik menghentikan produksinya karena perang.
Setelah masa kemerdekaan pimpinan pabrik gula Gondang Winangoen dipercayakan pada Doekoet, yang merupakan Administratur pertama orang Indonesia dipabrik tersebut. Pada tahun 1948 pimpinan beralih pada Ali Basyad sampai tahun 1950, sebagai akibat dari KMB maka pemerintah Indonesia harus menjamin keutuhan usaha milik Belanda di Indonesia harus dikembaliakn kepada pemilik semula. Maka PG Gondang Winagoen juga dikemblaikan dan pimpinan beralih kepada MFH Bremmers, selanjutnya berturut-turut  dipegang oleh Tn. Van Beneiden dan GF Bernet. Ketika hubungan Indonesia-Blanda maskin genting menyangkut masalah Irian Barat maka dikeluarkan peraturan militer No. 1063/PMT/1957 semua perusahaan Belanda dinasionalisasikan. Pimpinan PG Gondang Winangoen kemudian dipegang oleh Ir. Imam Soena, kemudian dipimpin oleh Ir. Umar Hawari, Bsc. 
            Pasca tahun 1957, pabrik gula diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Negara Unit Semarang, kemudian di PG Gondang Winagoen diganti nama menjadi PG Gondang Baru PT. berdasrkan PP No. 164/1964 tanggal 1 juli 1964 PG Gondang Baru PT dimasukan dalam PPN Jawa Tengah V Surakarta dengan menjadi PG Gondang Baru. PP No. 14/1968 membubarkan PPN Jawa Tengah V dan membentuk Perusahaan Negara Perkebunan (PNP)XVI yang berkedudukan di Sala, maka PG Gondang Baru masuk dalam PNP XVI ini. Sejak tanggal 1 April 1981 PNP XVI dibubarkan dan digabung dengan PTP XV(Persero) dan menjadi PT Perkebunan XV – XVI(Persero) yang berkedudukan di Surakarta.
Dalam memproses tebu menjadi gula, PG. Gondang Baru merupakan satu-satunya pabrik gula yang menggunakan Sistem Karbonatasi Rangkap. yaitu cara pengolahan gula dimana dalam pemurnian Nira digunakan gas CO2 sehingga mampu menghasilkan kristal gula yang lebih berkualitas. Dan dalam operasionalnya PG. Gondang Baru jg masih menggunakan mesin-mesin bertenaga uap asli dari masa revolusi industri dan masih berfungsi dengan baik hingga saat ini. 

2.1.2 Gula
            Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energy dan komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk Kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa ( yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam ), menyimpan energi akan digunakan oleh sel.
2.1.2.1 Gula Tebu
Gula tebu kebanyakan dipasarkan dalam bentuk gula Kristal curah. Pertama- pertama bahan mentah dihancurkan dan diperas sarinya, dikumpulkan dan disaring. Cairan yang dibentuk kemudian ditambahkan bahan tambahan ( biasanya menggunakan kalsium oksida ) untuk menghilangkan ketidakmurnian campuran tersebut kemudian diputihkan dengan belarang dioksida. Campuran yang terbentuk kemudian didihkan endapan dan sampah yang mengambang, kemudian dapat dipisahkan. Setelah cukup murni, cairan didinginkan dan dikristalkan ( biasanya sambil diaduk) untuk memproduksi gula yang dapat dituang kecetakan. Sebuah mesin sentrifugal juga dapat digunakan pada proses kristalisasi.

2.1.3 Swasembada gula                             
Swasembada gula adalah mampu memenuhi konsumsi gula nasional melalui produksi gula yang bersumber dari areal rakyat dan areal tebu swasta. Hal ini disampaikan Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono dalam makalahnya yang berjudul “Upaya Pencapaian Swasembada Gula Nasional 2012” di depan peserta rapat kerja Badan Litbang Pertanian.
Bagi Indonesia, mewujudkan swasembada gula sebenarnya sangatlah tidak sulit. Indonesia merupakan negeri yang potensial menjadi produsen gula dunia. Selain agroekosistemnya mendukung, luas lahan dan sumber daya manusianya juga sangat mencukupi. Tentu saja, hal ini juga harus dilakukan secara terpadu oleh semua pihak terkait.
Untuk diketahui, saat ini industri gula di Indonesia sendiri baru didukung oleh 59 pabrik gula (PG) dan 8 pabrik gula rafinasi (PGR). Yang perlu diperhatikan, bahwa  PG-PG yang berada di Pulau Jawa saat ini kondisinya relatif kurang produktif dikarenakan faktor usianya yang banyak sudah tua. Selain itu, PG-PG ini juga sangat tergantung kepada petani tebu yang luas arealnya di Jawa ini sudah sangat terbatas. Sementara itu, pabrik gula Rafinasi yang ada pun belum berproduksi secara optimal. Tercatat, sampai 2008 lalu utilisasi kapasitasnya baru  sekitar 40% - 60%.
Tabel 1 Data Luas Lahan, Produksi Tebu, Rendemen, dan Produksi Gula Indonesia tahun 2006-2013
Sumber: statistik ditjen perkebunan tahun 2012 dan DGI tahun 2013 (http://asosiasigulaindonesia.org)
Luas lahan, produksi tebu, rendemen dan produksi gula domestik selama 8 tahun terakhir belum mengalami kenaikan yang signifikan dan cenderung stabil dari tahun ke tahun. Artinya pengadaan program swasembada gula guna meningkatkan produksi gula nasional sangat diperlukan.
Target pencapaian swasembada gula menurut Dewan Gula Indonesia (2009) terbagi atas 3 tahap yaitu: (1) swasembada gula konsumsi untuk memenuhi kebutuhan langsung rumah tangga pada tahun 2009 sebesar 2,7 juta ton, yang ditargetkan dipenuhi pada tahun 2008, (2) swasembada gula konsumsi langsung rumah tangga, industri dan sekaligus mencapai neraca perdagangan gula nasional tahun 2010-2014, (3) swasembada gula berdaya saing mulai dari tahun 2015-2025 yang difokuskan pada modernisasi industri berbasis tebu melalui pengembangan industri produk pendamping tebu (PPGT) yang memiliki nilai tambah.
Saat ini Indonesia menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2014, yaitu hasil produksi gula berkisaran 2,5 juta ton per tahun. Namun angka tersebut masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan target swasembada sebelumnya, yaitu hasil produksi dikisaran 3,1 juta ton per tahun.


2.1.4 Industri Gula
            Indonesia pernah mengalami era kejayaan industri gula pada tahun 1930-an. Saat itu pabrik gula yang beroperasi adalah 179 pabrik gula (PG). Produktivitas sekitar 14,8 persen dan rendemen mencapai 11 – 13,8 persen. Ekspor gula pernah mencapai sekitar 2,4 juta ton dengan produksi puncak mencapai sekitar 3 juta ton (Sudana et al., 2000).
Pada periode 1991 – 2001, industi gula Indonesia mulai menghadapi berbagai masalah yang signifikan. Salah satu indikator masalah industri gula Indonesia adalah kecenderungan volume impor yang terus meningkat dengan laju 16,6 persen per tahun pada periode tersebut. Hal ini terjadi karena ketika konsumsi terus meningkat dengan lanjut 2,96 persen per tahun, produksi gula dalam negeri dengan laju 3,03 persen per tahun. Pada limah tahun 1997 – 2002, produksi gula bahkan mengalami penurunan dengan laju 6, 14 persen per tahun (Dewan Gula Indonesia, 2002).
            Permasalah industri gula saat ini adalah pada optimalisasi kapasitas giling. Masalah optimalisasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum bisa diselesaikan. Masalah optimalisasi ini juga terkait erat dengan tingkat teknologi yang ada di pabrik gula. Saat ini terdapat sekitar 62 PG indonesia. Kapasitas pabrik berkisar 2.500 ton tebu per hari (TCD) sampai 6.000 TCD. Ada beberapa PG yang berkapasitas 12.000 TCD sampai 14.000 TCD seperti Indo lampung dan Gunung Madu.
Pemanfaatan tehnologi penggilingan pabrik gula di Indonesia masih didominasi teknologi yang relatif ketinggalan zaman. Semuaini menjadi faktor rendahnya produktivitas dan rendemen gula. Untuk mengatasi kendala ini perlu diadakan pengoptimalisasi tehnologi. Pengoptimalisasi tehnologi harus dilakukan secara menyeluruh, dari semua aspek produksi peningkatan kapasitas giling, hal ini sudah terbukti dari belasan pabrik baru yang dibangun di era tahun 80an dengan kapasitas rata-rata hampir 5000 tcd performancenya sangat jelek seperti halnya PG. Gondang Baru yang telah berumur lebih dari satu abad.
Kapasitas giling dari pabrik gula yang ada di seluruh Indonesia mencapai 205.000 ton tebu per hari (TCD). Dengan asumsi 170 hari giling dan rendemen 9 persen, maka produksi yang bisa dihasilkan seharusnya mencapai 3,1 juta ton gula per tahun. Seharusnya angka itu sudah mampu memenuhi kebutuhan gula kristal putih (GKP)/gula konsumsi, namun kini produksi GKP hanya di kisaran 2,5 juta ton pada tahun 2013.

2.1.5 Rendemen Tebu
Rendemen tebu merupakan kandungan yang terdapat pada tebu. Dalam prosesnya ternyata rendemen yang dihasilkan oleh tanaman dipengaruhi oleh keadaan tanaman dan proses penggilingan di pabrik. Untuk mendapatkan rendemen yang tinggi, tanaman harus bermutu baik dan ditebang pada saat yang tepat. (Purwono, 2003:56).
Notojoewono (1984) menyatakan kehilangan gula dari saat tebang sampai akhir pengolahan dapat mencapai 35 persen. Kehilangan yang terjadi pada saat tebang sampai giling berkisar 5 sampai 25 persen. Kehilangan ini terutama disebabkan keterlambatan giling sehingga tebu menjadi rusak. Kerusakan tebu tidak hanya menyebabkan kehilangan gula, tetapi juga menyebabkan pengolahan tebu menjadi gula lebih sulit.
Menurut Mochtar (1982), kehilangan gula akibat penundaan giling lebih besar dari  pada kehilangan yang terjadi dalam proses pengolahan. Adapun jenis penundaan yang terjadi sebagai berikut: 1. Di kebun, yaitu pada waktu penebangan, memotong, menumpuk tebu, dan memuat ke alat pengangkut. 2. Penundaan akibat pengangkutan dapat disebabkan oleh jarak, keadaan jalan, cuaca, dan arus lalu lintas dari kebun ke pabrik. 3. Di pabrik, penundaan karena menunggu untuk digiling.

2.1.6 Optimalisasi Tehnologi Giling
Optimalisasi adalah tindakan untuk memperoleh hasil yang terbaik dengan keadaan yang diberikan. Dalam desain, konstruksi, dan pemeliharaan dari sistem teknik,harus diambil beberapa teknologi dan keputusan managerial dalam beberapa tahap. Tujuan akhir dari semua keputusan seperti itu adalah meminimalkan upaya yang diperlukan atau untuk memaksimalkan manfaat yang diinginkan.
Selama ini, optimalisasi tehnologi pabrik gula di Indonesia hanya beranggapan untuk mencapai hasil yang optimal yaitu dengan menggunakan mesin dengan kapasitas penggiling maksimal. Saat mesin selalu pada kapasitas maksimal maka kerja mesin selalu dalam keadaan berat, ini semua dapat menimbulkan penurunan peformace mesin tersebut. Sehingga mesin selalu mengalami penurunan, walaupun masalah ini tidak terlalu mempengaruhi secara signifikan namun dapat diperhitungkan bila mesin sudah berumur tua.
2.2 Hipotesis
            Menurut pandangan dan dugaan penulis. Dapat diperkirakan bahwa optimalisasi tehnologi penggilingan pada pabrik gula dapat meningkatkan produksi gula. Dengan meningkatnya produksi gula, swasembada akan meningkat.



BAB III
METODOLOGI
                 
3.1 Jenis  Penelitian
Penelitian deskriptif kualitatif termasuk salah satu penelitian kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mengangkat fakta, keadaan, variable, dan fenomena-fenomena yang terjadi ketika penelitian berlangsung dan mennyajikannya apa adanya.(Moleong,2002:3)
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian kami lakukan pada tanggal 17 Maret 2014 sampai 29 Agustus 2014 di SMAN 1 Purwoharjo dan di Pabrik Gondang Baru terletak kurang lebih 5 km dari kota Klaten, tepatnya berada di desa Plawikan, kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten.
3.3        Tehnik Penganbilan Data
3.3.1 study literatur
kami menggunakan metode literatur dengan mencari data dari berbagai macam buku yang didapat dari perpustakaan maupun browsing dari internet.
3.3.2    observasi
Observasi dilakukan melalui pengamatan secara langsung terhadap fenomena fenomena yang akan diteliti dimana peneliti melakukan pengamatan atau pemusatan perhatian terhadap objek menggunakan seluruh alat indera (Arikunto,1998:146)
3.3.3 Wawancara
Kami menggunakan metode wawancara dengan karyawan pabrik gulaGondang Baru.
3.4 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan penggabungan hasil data yang diperoleh dari studi literatur, browsing di internet, observasi dan wawancara untuk menarik kesimpulan sesuai dengan analisis permasalahannya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
            Pada tanggal 18 juni 2014, Karyawan PG Gondang Baru mengatakan bahwa kapasitas giling pabrik gula mempengaruhi hasil produksi gula. Mesin penggiling yang digunakan tergolong sangat tua yaitu B LAHAYE & BRISSONEANT buatan Prancis tahun 1884 yang sampai saat ini masih bisa berfungsi. Terhalangnya dana menjadikan alasan tidak dilakukan peremajaan mesin-mesin di pabrik tersebut. Kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan untuk meningkatkan produksi salah satunya adalah tebu yang telah ditebang, secepatnya diangkut ke pabrik gula untuk segera digiling.

4.2 Pembahasan
            Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energy dan komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk Kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa ( yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam ), menyimpan energi akan digunakan oleh sel.
            Produksi gula yang dari tahun 2006 hingga 2013, tidak mengalami peningkatan masih berkisar 2,3 juta ton padahal luas lahan dan produksi tebu tiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 luas lahan tebu 396.440 Ha menjadi 460.496 Ha. Produksi tebu juga mengalami peningkatan, produksi tebu pada tahun 2006 adalah 29.179.299 ton menjadi 35.378.805 ton pada tahun 2013 (statistik ditjen perkebunan tahun 2012 dan DGI tahun 2013). Berbagai cara telah diusung sebagai upaya dalam peningkatan swasembada gula nasional. Salah satunya dengan cara optimalisasi tehnologi penggilingan pabrik gula.
            Berdasarkan hasil penelitian, produksi gula sangat dipengaruhi oleh tingkat rendemen tebu, sedang tingkat rendemen tebu dipengaruhi juga pada proses penggilingan tebu. Tujuan penggilingan, untuk memerah batang tebu sebanyak-banyaknya sehingga memisahkan nira dari ampas tebunya. Dan untuk menghindari kehilangan gula karena mikroorganisme di dalam nira maka harus dilakukan tindakan antara lain : 1) luas permukaan yang langsung berkontak dengan nira dilapisi oleh tembaga, 2) pembersihan periodic alat penggiling, 3) mengusahakan waktu tinggal terhadap nira di stasiun gilingan sependek mungkin.
            Optimalisasi tehnologi penggilingan, ternyata dapat meningkatkan rendemen gula yang dapat meningkatkan hasil produksi gula. Ini adalah kebijakan alternative untuk mendukung program pemerintah dalam upaya peningkatan swasembada nasional sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar mencapai hasil yang optimal.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Hasil produksi gula dapat ditingkatkan dengan mengupayakan kebijakan pada proses penggilingan yang tepat agar rendemen gula tidak hilang. 
2.Berdasarkan hasil penelitian, optimalisasi tehnologi peggilingandapat meningkatkan peran pabrik gula dalam peningkatan swasembada gula nasional.
3.Optimalisasi tehnologi penggilingan dapat menjadi kebijakan alternative, selain peremajaan pabrik gula.

5.2 Saran
1. Diharapkan pengelola pabrik gula dapat menerapkan kebijakan optimalisasi tehnologi penggilingan sebagai sarana peningkatan produksi gula.
2. Diharapkan pemerintah dapat memberikan edukasi terhadap petani tebu terhadap tingkat rendemen tebu untuk meningkatkan swasembada gula




DAFTAR PUSTAKA

Mubyarto.1984.Masalah Gula Indonesia.yogyakarta:BPFE

Nurhati, Fitri., 2013.Lima Pilar Menuju Swasembada Gula Nasional.Yogyakarta.

Haryono, 2012. Upaya Pencapaian Swasembada Gula Nasional 2014.Retrived

Noeltrg, 2012. Swasembada Gula 2014 Meramu Potensi Agar Harga Gula Tetap Manis. Retrieved

Ditkeb, 2012. Produksi gula Indonesia.. Ditjen Perkebunan, Jakarta

Fortekindo, 2013.PABRIK GULA GONDANG BARU KLATEN JATENG. Retrieved

http://fortekindo-tour.blogspot.com/2013/07/pabrik-gula-gondang-baru-klaten-jateng.html

 



LAMPIRAN

Format wawancara dengan pegawai pabrik gula :
1.      Apakah kapasitas giling mempengaruhi hasil produksi pabrik gula ? 
2.      Mesin apa yang digunakan pabrik gondang baru dan berapa kapasitas gillingya?
3.      Bagaimana peformancenya pabrik gula Gondang Baru saat ini ?
4.      Untuk mencapai target swasembada gula nasional sepertinya sulit dicapai. Mengapa pabrik gula gondang baru tidak menggunakan teknologi yang terbaru? dengan kapasitas gillingnya yang lebih tinggi.
5.      Kebijakan apa sajakah yang menyangkut proses penggilingan yang sudah diupayakan oleh pabrik gula Gondang Baru untuk meningkatkan hasil produksi ?


0 komentar: